Kasimo dan Ladang menjadi benang merah dalam perjalanan politik dan gagasan Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono. Dari masa kecil di Muntilan hingga peran pentingnya dalam kabinet awal republik, Kasimo selalu menaruh perhatian utama pada ketersediaan pangan sebagai fondasi kemerdekaan. Perjalanan intelektual dan organisasi Kasimo menunjukkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar pengibaran bendera, melainkan upaya konkret memastikan rakyat tidak lapar. Pandangan ini yang kemudian melahirkan rancangan pertanian strategis yang dikenal sebagai Kasimo Plan. Jejak awal: Muntilan, pendidikan, dan pembentukan hati nurani I.J. Kasimo dilahirkan di tengah nuansa keraton dan lingkungan Muntilan yang kaya akan perjumpaan agama dan budaya. Pendidikan awal di sekolah yang dirintis Romo van Lith memberi pengaruh mendalam: pendidikan dipahami bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga pintu untuk memahami martabat manusia. Dari situ, Kasimo membawa ‘akal sehat’ dan ‘hati nurani’ sebagai bekal hidupnya. Perjalanan pendidikannya berlanjut ke Bogor, tempat di mana ia bertemu dengan energi kolektif pergerakan pemuda dan organisasi seperti Jong Java. Perpaduan pengalaman Muntilan dan Bogor membentuk dirinya: penghayatan agama yang humanis dan kecintaan pada tanah air yang matang menjadi dasar bagi pilihan hidup politiknya. Organisasi politik dan suara moderat Pada 1923 Kasimo mendirikan Pakempalan Politik Katolik Djawi (PPKD), yang kemudian menjadi Partai Politik Katolik Indonesia (PPKI). Meski berasaskan Katolik, PPKI tampil sangat nasionalis. Kasimo menegaskan bahwa keberagaman agama adalah kekuatan, bukan sekadar statistik minoritas. Sikap ini menempatkannya sebagai tokoh yang mengedepankan empati dan kebersamaan lintas keyakinan. Ketika menjadi anggota Volksraad pada 1931, Kasimo bukan sekadar figur simbolis. Dalam ruang yang kerap dipandang sebagai panggung kolonial, ia memberi argumen moral tentang hak bangsa-bangsa di Nusantara untuk mengatur urusannya sendiri. Ujarannya yang tegas namun tanpa histeria menabur benih gagasan yang kelak relevan bagi republik merdeka. Baca juga: Setialah A Pudji Windoko: Lagu “Setialah” A Pudji Windoko Dirilis di Platform Digital, Kado HUT ke-38 GKJW… Kasimo dan Ladang: revolusi pangan sebagai prioritas Setelah proklamasi kemerdekaan, negara yang baru berdiri menghadapi kerentanan besar. Kasimo dipanggil untuk memikirkan persoalan paling mendasar: bagaimana rakyat akan makan esok hari. Dengan beberapa kali menjabat di posisi kementerian yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan—Menteri Muda Kemakmuran, Menteri Persediaan Makanan Rakyat, Menteri Perdagangan, hingga Menteri Pertanian—ia mengusulkan pendekatan yang sistematis terhadap pertanian. Kasimo merumuskan apa yang dikenal sebagai Kasimo Plan: strategi penataan pertanian melalui intensifikasi, ekstensifikasi, dan upaya ketahanan pangan. Bagi Kasimo, ladang dan petani bukan sekadar obyek kebijakan; mereka adalah jantung republik. Ia melihat kemerdekaan akan kehilangan makna jika rakyat tetap lapar. Maka, revolusi pertama yang harus dijalankan oleh bangsa adalah revolusi pangan. Gaya politik: sederhana, etis, dan teladan Dalam dunia politik yang sering dipenuhi retorika keras, Kasimo tampil sebagai anomali: rendah hati, tidak gemar teriakan, namun penuh integritas. Ia menolak fanatisme dan memilih dialog serta kerja sama lintas aliran. Persahabatannya dengan tokoh-tokoh dari berbagai latar, termasuk pemimpin dari kalangan Islam seperti Mohammad Natsir dan Prawoto Mangkusasmito, menunjukkan kapasitasnya untuk menjalin koalisi berdasarkan tujuan kemanusiaan. Gaya hidupnya sederhana. Kesederhanaan itu bukan hanya soal penampilan; bagi Kasimo, memisahkan kepentingan negara dan pribadi adalah bagian dari etika politik. Sikap ini membuatnya menjadi kompas moral di masa-masa politik yang sarat intrik. Kesaksian rekan-rekannya menggambarkan figur yang jujur, tenang, dan penuh empati—nilai yang kemudian menjadi bagian dari warisannya. Warisan dan ingatan publik I.J. Kasimo wafat pada 1986 dan dimakamkan dengan pengakuan sebagai Pahlawan Nasional. Namun yang lebih penting dari gelar dan penghargaan adalah warisan gagasan: bahwa politik harus melayani rakyat, bahwa keberagaman adalah kekuatan, dan bahwa ketahanan pangan adalah fondasi kedaulatan bangsa. Nilai-nilai ini dinyatakan Kasimo dalam kalimat yang sering dikutip: ‘Salus populi suprema lex esto’—kepentingan rakyat adalah hukum tertinggi. Kenangan tentang Kasimo bukan soal monumen atau slogan keras, melainkan keteladanan sunyi yang memperkuat kepercayaan publik terhadap politik sebagai pelayanan. Ia meninggalkan republik yang lebih siap berdiri karena perhatian pada hal-hal mendasar: pendidikan, pangan, dan keberanian berpikir. Warisan Kasimo tetap relevan: sebuah pengingat bahwa pembentukan negara yang adil dan sejahtera bermula dari tanah, dari ladang yang digarap oleh petani, dan dari kebijakan yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan akhir berbangsa dan bernegara. Baca juga berita lainnya: Sutardji Calzoum Bachri di PPN XIV Aceh: Membacakan Puisi dan Rayakan 85 Tahun Touchland Performance Body Spray: Wewangian Esensial untuk Gaya Hidup Aktif Navigasi pos Setialah A Pudji Windoko: Lagu “Setialah” A Pudji Windoko Dirilis di Platform Digital, Kado HUT ke-38 GKJW… Pendaftaran Polytron Fest 51 Resmi Dibuka, Festival Tahunan Kembali Digelar di GBK