Sutardji Calzoum Bachri tampil di panggung PPN XIV Aceh, membacakan sejumlah puisi yang berhasil menyentuh peserta pertemuan penyair dari berbagai daerah dan negara. Kehadirannya pada acara yang digelar di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh itu menjadi salah satu momen paling berkesan dalam rangkaian kegiatan. Suasana semakin haru saat pembacaan belum dimulai, ketika para peserta beserta musisi menghadirkan kejutan berupa lagu “Selamat Ulang Tahun”. Momen itu menjadi penghormatan sederhana namun penuh makna karena pada hari tersebut Sutardji merayakan usia ke-85. Kehadiran Sutardji Calzoum Bachri di PPN XIV Aceh Momen pembacaan dan kejutan ulang tahun Kredo Puisi: Warisan pemikiran dan praktik Sutardji dikenal luas melalui konsep “Kredo Puisi”, yang memandang hubungan manusia dengan kata, bahasa, dan makna secara intens. Kehadirannya di panggung PPN XIV Aceh kembali mengingatkan pentingnya gagasan tersebut: bahwa puisi bukan sekadar estetika, melainkan juga cara untuk merekam pengalaman manusia dan menafsirkan perjalanan zaman. Dalam pembacaan, konsep itu terasa lewat pilihan diksi dan ritme yang mengajak pendengar masuk ke dalam pengalaman batin si penyair. Baca juga: Touchland Performance Body Spray: Wewangian Esensial untuk Gaya Hidup Aktif Pertemuan Penyair Nusantara: Ruang kolaborasi lintas generasi PPN XIV Aceh yang berlangsung pada 22–28 Juni menghadirkan penyair dari berbagai daerah Indonesia serta sejumlah peserta dari luar negeri. Forum ini berfungsi sebagai ruang kolaborasi kebudayaan untuk memperkuat hubungan antardaerah dan antarbangsa melalui bahasa puisi. Kehadiran figur seperti Sutardji menambah kedalaman pertemuan, memberi kesempatan bagi generasi muda untuk belajar langsung dari salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra nasional. Peran puisi dalam merekam pengalaman manusia Penampilan Sutardji menegaskan kembali fungsi puisi sebagai medium yang mampu menangkap dan menyimpan pengalaman manusia. Bagi banyak peserta, mendengarkan sosok yang disebut Presiden Penyair Indonesia itu membaca karyanya adalah pengingat bahwa sastra terus memiliki daya hidup: mampu membuka ruang dialog, ekspresi, dan suara kemanusiaan yang melampaui batas waktu. PPN XIV Aceh selain menjadi panggung apresiasi bagi Sutardji, juga memperlihatkan dinamika sastra kontemporer yang hidup dan berjejaring. Dialog antar-penyair berlangsung tidak hanya dalam bentuk pembacaan, melainkan juga diskusi dan pertemuan yang memberi bekal bagi perkembangan puisi di masa mendatang. Baca juga berita lainnya: Hong Kong ramah Muslim: Raih Peringkat 2 Dunia GMTI 2026, Diminati Wisatawan Indonesia Pertemuan Penyair Nusantara XIV Resmi Dibuka di Aceh Navigasi pos Touchland Performance Body Spray: Wewangian Esensial untuk Gaya Hidup Aktif Setialah A Pudji Windoko: Lagu “Setialah” A Pudji Windoko Dirilis di Platform Digital, Kado HUT ke-38 GKJW…