Pertemuan Penyair Nusantara XIV resmi dibuka di Aceh dengan nuansa budaya dan sastra yang kental, menandai pertemuan penyair, sastrawan, budayawan, dan pegiat literasi dari berbagai daerah dan negara. Pembukaan menegaskan peran sastra sebagai medium diplomasi budaya di tengah dinamika dunia. Acara pembukaan dipandu oleh Ade Putra dari Riau dan Wanda Ramadhana. Rangkaian dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Nisfun Nahar dan doa yang dipimpin Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, lalu seluruh hadirin menyanyikan Lagu Indonesia Raya dan Hymne Aceh bersama Paduan Isyarat yang melibatkan siswa-siswi SLB Bukesra Banda Aceh. Pembukaan dan rangkaian acara resmi Malam pembukaan menghadirkan beragam pertunjukan yang memperkuat identitas lokal dan semangat kebersamaan. Penampilan “Harmoni Syair Nusantara dari Aceh untuk Dunia” diiringi Marching Band Gita Handayani menjadi pembuka yang memadukan unsur musik dan sastra. Direktur Pelaksana PPN XIV Aceh-Indonesia, Noviati Maulida Rahmah, menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan yang menegaskan pentingnya diplomasi budaya melalui sastra di tengah dinamika global saat ini. Puncak pembukaan ditandai dengan penyampaian Ranub Sigapu Wali Nanggroe oleh Paduka Yang Mulia Teungku Malik Mahmud Al Haythar. Setelah itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., secara resmi membuka Pertemuan Penyair Nusantara XIV Aceh-Indonesia, ditandai serangkaian kegiatan formal termasuk penandatanganan kesepakatan diplomasi budaya, penyerahan Anugerah Cakrawala Penyair Nusantara, penghargaan kepada sekolah-sekolah pegiat literasi, serta sesi foto bersama para peserta. Penyair Nusantara: diplomasi budaya dan jejaring Dalam pengantarnya, para kurator PPN XIV menegaskan peran sastra sebagai jembatan dialog lintas bangsa dan medium untuk memperkuat persaudaraan budaya di kawasan Nusantara. Pengantar kuratorial disampaikan oleh Salman Yoga S, Rini Intama, Acep Zamzam Noor, Mohamad Saleeh Rahamad dari Malaysia, serta Zefri Ariff dari Brunei Darussalam. Komentar mereka menekankan urgensi memperluas jejaring sastra Melayu-Nusantara sebagai basis diplomasi budaya yang inklusif. Staf Khusus Menteri Kebudayaan, Nissa Rengganis, dan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. E. Aminuddin Aziz, M.A., Ph.D., memberikan sambutan yang menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung penguatan literasi, sastra, dan diplomasi kebudayaan Indonesia di tingkat regional maupun global. Pernyataan ini menegaskan dukungan formal bagi kegiatan yang mempertemukan pelaku sastra dari dalam dan luar negeri. Baca juga: Permintaan Isi Sumber untuk Menulis Ulang: Karakteristik Orang yang Aktifkan Mode Senyap Penghormatan tokoh sastra dan parade pembacaan puisi Malam pembukaan juga memuat segmen penghormatan khusus berjudul “Tribute to Nik Rakib Nik Hasan”, sebagai bentuk apresiasi terhadap tokoh yang memberikan kontribusi besar pada perkembangan jaringan sastra Nusantara. Tayangan sapaan penyair bersama Taufik Ismail menambah nuansa penghormatan tersebut. Parade pembacaan puisi menampilkan sejumlah nama terkemuka, antara lain Imam Ma’arif, Bara Pattyradja, Tuyed Legam, Djamal Syarief, Nissa Rengganis, Ranie Kashmir, dan LK Ara. Penampilan para penyair diiringi musik dari Riski Tangke, sehingga malam pembukaan menjadi perpaduan bacaan dan musik yang memperkaya penyajian sastra. Aceh sebagai tuan rumah dan tradisi Kopi Gayo Gubernur Aceh, Muzakkir Manaf, menyambut kegiatan ini dengan apresiasi atas dipercayakannya Aceh sebagai tuan rumah PPN XIV. Dalam sambutannya, ia menegaskan sejarah panjang Aceh sebagai pusat peradaban, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan yang terbuka terhadap pergaulan dunia. Pada sisi budaya populer, penulis Gara menyoroti unsur lokal yang mewarnai pertemuan ini, khususnya Kopi Gayo. Menurut Gara, Kopi Gayo bukan hanya komoditas ekonomi tetapi juga bagian dari identitas budaya Tanoh Gayo; aroma dan citarasanya kerap menjadi latar dalam percakapan tentang kehidupan, kebudayaan, dan lahirnya karya sastra. Ia menambahkan bahwa secangkir kopi sering menjadi teman lahirnya puisi dan esai, sehingga pertemuan sastra di Gayo akan diwarnai diskusi dan pengalaman kebudayaan yang utuh. Partisipasi internasional dan keberlanjutan jejaring PPN XIV menghadirkan delegasi dari 14 negara, menandai upaya memperkuat jejaring sastra dunia Melayu-Nusantara sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Aceh kepada khalayak internasional. Menurut laporan acara, rangkaian kegiatan dibuka dengan kedatangan peserta dan tamu mancanegara melalui Bandara Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, pada Senin (22/6/2026). Perhelatan yang berlangsung pada 22-28 Juni 2028, sebagaimana tercatat dalam materi acara, dimaksudkan sebagai ruang perjumpaan budaya di mana kata-kata menjadi jembatan yang menghubungkan tradisi, bahasa, dan pengalaman hidup beragam komunitas. Kehadiran penyair dan pegiat literasi internasional memperkuat harapan bahwa sastra tetap menjadi bahasa universal yang mampu menyatukan bangsa-bangsa melalui dialog, kreativitas, dan persaudaraan budaya. Pembukaan resmi PPN XIV di Aceh tidak hanya menandai dimulainya serangkaian sesi pembacaan dan diskusi; ia juga menjadi momen diplomasi budaya formal dan simbolis. Penyerahan penghargaan, penandatanganan kesepakatan, serta kegiatan lintas sektor seperti penghargaan bagi sekolah literasi menunjukkan komitmen kolektif untuk memastikan sastra dan literasi tetap berkembang sebagai ruang publik yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat. Baca juga berita lainnya: Milklab Gandeng Kafe Independen Jakarta Luncurkan Cafe Hopping Program ‘Sip, Explore, and Win’ Telkomsel Jakarta Fair 2026: Ragam Produk dan Layanan Ramaikan JFK Kemayoran Navigasi pos Permintaan Isi Sumber untuk Menulis Ulang: Karakteristik Orang yang Aktifkan Mode Senyap Hong Kong ramah Muslim: Raih Peringkat 2 Dunia GMTI 2026, Diminati Wisatawan Indonesia